Rabu, 30 November 2016

lani

Dikisahkan ada seekor kucing bernama Lani, ia tinggal bersama majikannya di daerah perkotaan padat penduduk. Lani kucing yang manja dan disayang oleh Rani sang majikan. Pada suatu hari Rani harus pergi dan meninggalkan Lani. Lani sedang memandang ke luar jendela, kendaraan berjajar jajar, orang orang berlalu lalang mengerjakan pekerjaan masing masing. Disanalah Lani juga melihat kucing seperti dirinya, namun lebih bebas pergi kemanapun yang ia suka dan ia mau. Sejenak Lani berpikir ingin seperti kucing itu, namun lamunanya terbuyarkan atas bayang bayang Rani “Yeah, aku harus tetap disini demi Rani”
Hari demi hari sikap Rani berubah, ia lebih sering ke luar rumah dan mulai mengabaikan Lani. Dan hari itu tiba, disaat Rani membawa Clauni, kucing kecil yang lucu itu untuk tinggal bersama denganya. Perhatian Rani selalu pada Clauni dan itu membuat Lani… IRI. Lani membulatkan tekat untuk pergi dari rumah “Toh, aku pergi atau tidak tak masalah. Sekarang ada Clauni dan aku tak perlu mengkhawatirkan Rani” gumamnya
Kesempatan itu tak disia-siakan Lani, Rani pergi untuk membawa Clauini cek ke Dokter sementara Lani pergi meninggalkan rumah. “Ternyata begini ya rasanya hidup bebas, kalau tau seperti ini rasanya aku akan pergi dari dulu” gumam Lani
Tiba tiba Lani merasa perutnya lapar, ia melihat se ekor kucing kucing mengais sampah untuk mendapat makanan. Di tikungan jalan selanjutnya Lani mempraktekan apa yang telah ia lihat tadi.
“Halo manis, sedang apa kau disana?”
“Oh, hey. Aku sedang kelaparan dan aku sedang mencari makan”
“Kalau begitu pergilah!! Ini daerah kekuasaan kami, kau tidak boleh seenaknya mencari makan disin!!”
“Tapi….”
“PERGI!!”
Lani berjalan gontai meninggalkan tempat itu, ia tak ingin terlibat dalam semua kegilaan ini. Ia begitu lemas hingga menabrak kucing lain
“Oh maafkan aku”
“Mari menepi”
“Ada apa?”
“Kau sudah makan? Apa kau sakit? Dari mana kau berasal?”
“Aku memang belum makan, mungkin sedikit lemas dan aku berasal dari rumah sebelah toko roti di seberang jalan”
“Ya sudah ini makanlah, tadi aku sudah makan”
“Terimakasih”
Lani begitu berterimakasih pada kucing jantan ini, ia begitu baik padanya “Hey tunggu…”
“Ada apa? Kau masih kurang sehat?”
“Bukan. Siapa namamu?”
“Aku tak punya nama, karena aku bukan kucing rumah sepertimu.”
“Oh, ayolah apa temanmu tak pernah memanggilmu?”
“Aku tak pernah punya teman!!!”
“Ayolah jangan tersinggung seperti itu…”
“Mau… Jadi temanku?” kata Lani melanjutkan
“Kenapa? Maksudku, kenapa kau ingin menjadi temanku?”
“Karena aku tak punya teman, dan kau kucing yang baik”
“Kau tak tau masa laluku…”
“Hey… Biar masa lalumu jadi milikmu dan masa laluku akan menjadi milikku. Sekarang yang terpenting kita harus memulai semua dari awal. Oke!!”
“Hmmm…. Baiklah”
“Panggil aku Lani dan kau… Blacki”
Pertemanan mereka dimulai dari sini dan entah berakhir dimana, hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Blacki selalu mengajari Lani tentang segalanya, tentang semua yang harus diketahui untuk hidup di dunia yang luas ini dan tentang semua kemungkinan yang akan terjadi.
Hingga suatu hari… Blacki tak sanggup, tak sanggup… Melakukan ini… Lagi…
“Lani… Ini salah”
“Maksudmu?”
“Ya, ini salah semuanya salah pertemanan kita, dunia ini. Ini semua salah”
“BLACKI…!!!”
“Kau harus kembali Lani, dunia ini… Semuanya… Ini terlalu sulit untuk kucing cantik sepertimu”
“Oh, ayolah. Jangan mulai lagi”
“Kau harus kembali Lani”
“Tidak, aku tak ingin meninggalkanmu”
“Kalau kau tak ingin pulang, aku yang pergi!!”
“Yayaya, kali ini aku menyerah. Ok, aku akan pulang”
“Kapan?”
“Tapi…”
“Tapi apa?”
Pagi ini akan menjadi hari yang panjang bagi Blacki “Yeah, Ini demi Lani” tekadnya
“Hey, Balcki… Kita akan kemana?”
“Ke tempat yang indah”
“Ya aku tau, tapi apa? Air terjun, pegunungan, taman, pantai atau apa?”
“Sudahlah, mari kita pergi”
Sejujurnya Blacki tak tau harus kemana. Namun ia terus tersnyum, menandakan bahwa semua akan baik baik saja.
Hari mulai petang dan mereka terus berjalan, berjalan dan hanya berjalan. Hingga sesuatu menghentikan mereka.
“Blacki… Mungkinkah ini yang kau maksud ‘TEMPAT INDAH’ itu?”
Blacki menatap sekeliling, mengedarkan pandangan ke segala arah “ya” jawabnya
“Lani… Kau pulang sekarang?”
“Entahlah”
“Kau akan pulang esok, malam ini kita akan menginap di sini”
Yeah, besok Lani akan pergi. Pergi dari dunia yang keras ini, kembali pada dunianya, pada… Rani “Semoga Rani… Baik baik saja”
Dan sekarang, telah 7 hari dari kejadian itu… Kejadian yang merenggut nyawa Blacki. Rani sendiri, berjalan tak tentu arah dihantui kata kata terakhir Blacki
“Rani pulanglah dunia ini terlalu keras untukmu. Sekarang… Tak ada lagi… Yaaaa…ng menjagamu. Pulanglah!!! Pulanglah!!!”
“Apa salahnya menuruti temanku untuk yang terakhir kalinya”
Di dalam perjalanan pulang ia memikirkan segalanya, memikirkan Blacki Rani dan semua yang telah ia lalui selama ini. “Apa keputusanku waktu itu salah?”
Lani bingung apa yang akan ia lakukan sekarang, berdiri di rumah Rani tanpa tau apa yang akan ia lakukan. Mengintip dari jendela… Ya itu ide yang bagus.
“Tunggu… Di mana Rani? Apa yang terjadi hingga orangtuanya datang ke mari? Ada apa ini? Apa semua baik baik saja?” batin Lani
“Halo manis”
“Kau…? Kucing yang itu…”
“Memang, dari mana saja kau? Banyak kejadian setelah kepergianmu”
“A… apa yang terjadi?”
“Majikanmu, Rani… Setelah pulang ke rumah ia sibuk mencarimu, ia pulang membawa boneka persis seperti yang kau suka. Dan setelah tau kau hilang…”
“Katakan apa yang sebenarnya terjadi…?”
“Ia menyuruh seseorang mencarimu, seharian ia menangis memeluk boneka itu sampai sampai Clauni yang malang tak dihiraukan oleh Rani. Dan esok hari ia mencarimu, memanggil namamu membawa bonekamu dan lonceng kecil kesayanganmu. Lalu…”
“Lalu?”
“Mungkin ia tampak sedih dan tak menghiraukan apapun… Ia tertabrak mobil saat ia menyeberang”
“Kau bohong… PEMBOHONG!!!”
“Baiklah coba periksa tong sampah itu”
“Tidak dia pasti berbohong, aku yakin itu… Rani katakan dia berbohong”
Deg
“Ini tak mungkin…” teriaknya
“Ini salahku, semuanya karenaku, andai aku tak egois seperti ini, aku pasti tak kan kehilangan Rani, tak kehilangan Blacki dan semua akan baik baik saja. Aku penjahatnya AKU…!!”
Tiiin…..!! Tiiin….!! Ciiit…!!! BRUAK…!!!!

gajah dan buaya

Pada suatu hiduplah seekor gajah dan kawanannya di sebuah hutan yang sangat besar dan lebat. Ketika hari menjelang siang, gajah itu pergi mencari makanan dan minuman. Sang gajah merasa sangat haus, lalu gajah itu menuju sungai di hutan itu untuk minum.
Ketika gajah sedang minum air di sungai itu, datanglah seekor buaya, buaya itu ingin menggigit belalai gajah. Gajah tidak menyadari hal tersebut sedangkan buaya semakin mendekat dan “AAAA” gajah berteriak merasa kesakitan, Buaya menggigit belalai gajah. “Tolong lepaskan aku, aku janji jika kau melepaskan aku maka aku akan membalas budimu” kata gajah memohon. Lalu buaya itu menjawab “Baiklah aku akan melepaskanmu, tapi ingat jangan pernah datang kesini dan minum air disini karena ini adalah kawasanku, kau mengerti, dan aku tidak percaya bahwa kau bisa membalas budi.. pergilah!!! Sebelum aku berubah pikiran” setelah mendengar ucapan buaya, gajah itu segera pergi meninggalkan buaya.
Beberapa hari kemudian, ketika gajah sedang mencari makan, ia mendengar suara. “Sepertinya aku mengenal suara itu” kata gajah di dalam hati. Kemudian gajah mengingat bahwa itu adalah suara buaya. Lalu gajah mencari dari mana suara itu berasal, tak lama kemudian, akhirnya gajah menemui dari mana suara buaya berasal. Ia melihat buaya sedang dalam bahaya. “Buaya sedang menghadapi pemburu, apakah aku harus membantunya. Jika aku membantunya maka nyawaku juga bisa terancam, lebih baik aku tidak usah membantunya” kata sang gajah.
Ketika gajah ingin pulang ia mengingat kejadian waktu ia bertemu buaya dan ia mengingat janjinya dan juga ia mengingat bahwa buaya tidak percaya gajah akan membalas budi, “aku sudah berjanji pada buaya, tapi buaya tidak mempercayaiku, tapi aku harus menolongnya dan membuktikan bahwa aku bisa melakukan apa yang baginya tidak mungkin aku lakukan. Tapi bagaimana caranya?” Kata gajah di dalam hati
Gajah memikirkan suatu ide, kemudian dia pulang ke tempat dia dan sekawanannya tinggal. Gajah meminta kawannya untuk membantunya, sebelum itu gajah menceritakan pertemuan awalnya dengan buaya, setelah mendengarkan cerita gajah, ada seekor gajah berkata “mengapa kau ingin membantunya dia sudah jahat padamu”. “iya itu betul” kata gajah yang lain. Lalu sang gajah menjawab, tidak semua kejahatan harus dibalas dengan kejahatan bukan? Lagi pula waktu itu dia sudah melepaskan aku. Setelah mendengar itu semua gajah berkata “ya, kami akan membantumu”
Lalu semua gajah itu datang ke tempat buaya. lalu gajah itu melawan pemburu, sampai akhirnya pemburu itu pergi. Akhirnya sang buaya berhasil diselamatkan. “Terima kasih gajah kau sudah menyelamatkan aku” kata buaya.”ya sama-sama” jawab buaya
Sejak kejadian itu buaya dan gajah hidup rukun dan saling tolong menolong, dan mereka menjadi sahabat dekat.
TAMAT

kisah semut dan belalang

Pada suatu pagi, terdapat segerombolan semut yang sedang bekerja mencari makanan di dalam hutan. Mereka sangat bersemangat dalam bekerja karena musim kemarau akan segera tiba. Pada saat sedang bekerja, sang raja semut bertemu dengan belalang. ketika itu, si Belalang sedang asyik bermain musik.
Raja semut pun bertanya kepada belalang. “Wahai belalang, mengapa kamu justru bermain musik? apakah kamu tidak mengetahui bahwa musim kemarau akan segera tiba?”
“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” tanya belalang.
“Kamu harus mencari makanan dan minuman, karena bila musim kemarau telah tiba, semua tanaman akan mati, kamu juga tidak akan bisa mencari air. karena semua air akan akan mengering, jadi, kamu harus mempersiapkannya mulai sekarang, agar nanti kamu tidak menyesal.” kata sang raja semut mengingatkan.
“Buat apa aku harus melakukannya, musim kemarau kan masih lama, hanya saja kau yang terlalu bersemangat semut, sudahlah, percuma saja aku berbicara denganmu” Si belalang pun akhirnya pergi meninggalkan raja semut.
Waktu pun berlalu, tak terasa musim kemarau telah tiba. si belalang bingung hendak mencari makanan kemana lagi, karena tidak ada satu pun tanaman yang ia temukan melainkan semuanya telah mati.
Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke rumahnya semut, ketika ia telah sampai di rumahnya semut, ia telah pingsan karena saking lapar dan hausnya. Untunglah saat itu, ada salah satu semut yang menemukannya dan dibawalah si belalang ke dalam rumahnya, setelah si belalang sadar, ia dijamu dengan berbagai macam buah-buahan dan minuman oleh sang raja semut dan seluruh rakyatnya.
Akhirnya, si belalang pun sadar dan berjanji, bahwa mulai saat ini ia akan lebih giat dalam bekerja dan tak akan bermalas malasan.

kisah monyet menjadi raja

Pada hari itu, penghuni hutan sedang bersedih. Karena mereka telah kehilangan sang pemimpin raja Singa. Sang raja Singa mati karena dibunuh oleh pemburu, Mereka pun segera bermusyawarah tentang siapakah yang berhak menggantikan sang raja singa.
“Bagaimana ini, raja singa telah terbunuh, sekarang tidak ada lagi yang memimpin kita” keluh tikus.
“tenang tikus, kita pilih saja di antara kita yang paling kuat, paling berani dan mampu menghadapi pemburu” kata kancil menenangkan tikus, Para penghuni hutan pun mencalonkan masing masing diri mereka sebagai binatang yang lebih pantas untuk menjadi raja, tiba tiba…
“Diam… sebaiknya aku saja yang menjadi raja, tubuhku memang kecil, tapi aku punya cara untuk menghadapi pemburu, jadi siapa yang mendukungku menjadi raja?” kata monyet mencalonkan diri.
Segera saja semua penghuni hutan setuju dan mengangkat monyet sebagai raja, berita pun tersebar luas hingga seluruh hutan.
Waktu pun berlalu, tapi sang “Raja Monyet” bukannya membawa kedamaian, justru membawa malapetaka bagi seluruh penghuni hutan, karena mereka sudah tidak tahan lagi akan perilaku monyet yang semena mena itu, mereka segera melaporkannya kepada kancil.
Ketika kancil mengetahui semua yang terjadi, maka segeralah kancil untuk menyusun rencana guna menjebak monyet guna menyadarkannya, yaitu monyet disuruh datang ke depan pintu goa. Sebelumnya, telah dikatakan kepada monyet, bahwa pesta besar telah dimulai, di sana (di depan pintu goa) telah disediakan bertandan-tandan pisang khas untuk monyet.
Pada hari yang telah ditentukan, datanglah sang “Raja Monyet” ke depan pintu goa, benarlah apa yang dikatakan kancil. Segeralah monyet ke tumpukan pisang, namun apa yang terjadi? monyet terjatuh ke dalam lubang yang sangat dalam, monyet pun berteriak meminta tolong.
“Tolong… tolong aku…!” jerit monyet, tetapi para penghuni hutan mengabaikannya dan meninggalkannya sendirian di dalam lubang, akhirnya monyet pun sadar dan berjanji bahwa dia tidak akan lagi bersikap sombong dan semena mena.

sahabat sejati

ada zaman dahulu kala hiduplah 3 ekor kucing yang hidup bersama sejak kecil. Walaupun mereka tidak bersaudara, tetapi mereka sudah seperti saudara karena setiap hari mereka selalu hidup bersama-sama dengan aman, tentram, dan rukun. Mereka adalah Puput, Bibi, dan Tintin. Puput adalah kucing yang paling cantik di antara Bibi dan Tintin, tetapi Puput tidak berhati sombong dan keras kepala justru Puput adalah kucing yang baik. Walaupun Bibi dan Tintin tau bila Puput lebih cantik dari mereka tetapi mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Puput, Bibi dan Tintin selalu menjalani hidup bersama maupun senang ataupun duka. Mereka bertiga hidup dengan berprinsip perbedaan tidak menjadi masalah dan halangan untuk mereka selalu bersama dalam ikatan persahabatan.
Pada suatu hari Puput, Bibi dan Tintin sedang berjalan-jalan bersama mengelilingi hutan, tiba-tiba mereka bertemu dengan seekor harimau yang sedang lapar dan terkenal ganas. Seketika Puput, Bibi, dan Tintin melihat harimau itu mereka langsung melarikan diri dan kabur dengan berlari. “Lari.. Bibi, Tintin cepat lari!!” desah khawatir Si Puput pada sahabat-sahabatnya. Harimau yang mengetahui keberadaan Puput, Bibi, dan Tintin langsung mengejar ke arah mereka berlari dengan cepat sambil mengaum agar tidak kehilangan mangsanya. “Garrghhhh! Mau lari kemana kalian kucing-kucing bodoh! Ha ha ha!”. Pada saat Puput, Bibi, dan Tintin berlari, tiba-tiba Bibi terperosok ke dalam lubang yang tidak terlalu dalam.
“Tolong! Tolong! Puput!! Tintin!! Tolong aku!”. Puput da Tintin yang mendengar suara Bibi meminta tolong itu langsung berhenti berlari dan menolong Bibi. “Bibi!!”. Ujar Puput dan Tintin. Kemudian Bibi berkata “Puput! Tintin! tolong aku! Aku takut berada di sini! Aku takut menjadi mangsa harimau itu”.
Kemudian Tintin berkata “Tenang saja Bibi, kami berjanji akan membantumu! Aku akan mencari tali untuk menarik Bibi dari lubang itu. Puput! Jaga dan temani Bibi dan tetap berada di sini!”. “Baik! Aku berjanji akan menjaga dan menemani Bibi di sini sampai kau datang Tintin! jangan khawatir Bibi!”.
Tak berapa lama kemudian si harimau ganas itu menemukan Puput dan Bibi yang sedang berada di dalam lubang itu. Dan harimau pun berkata “Garghhhhh! Mau lari kemana kamu kucing-kucing bodoh! Aku sudah tidak sabar menahan lapar di siang hari yang amat panas dan terik ini! Ha ha ha! Sekarang aku mendapat dua ekor kucing siang ini! Pasti sampai nanti malam aku akan merasa kenyang!” Puput yang terkejut melihat kehadiran si harimau ganas itu langsung pergi meninggalkan Bibi yang sedang berada dalam lubang itu. “Maafkan aku Bibi! Aku harus pergi untuk menyelamatkan diriku dari harimu ganas itu!” desah suara Puput dalam hati dan langsung berlari meninggalkan Bibi. Bibi pun langsung berkata “Puput jangan tinggalkan aku sendiri di sini! Teganya kau menyelamatkan dirimu sendiri daripada saahabatmu dari kecil ini!
Harimau yang tahu Puput berlari meninggalkan Bibi sedikit merasa kecewa karena hanya tinggal seekor kucing santapannya siang hari ini!. “Dasar kucing Bodoh! Tapi tak apa masih ada kau kucing malang! Siap-siap kau menjadi santapan makan siangku! Ha ha ha! Arghgghhhh!”. “Tidak!!!! Aku tidak mau menjadi santapanmu harimau licik! Ujar Bibi dengan suara melasnya.
Kemudian, datanglah Tintin yang mengetahui kejadian itu sambil membawa tali langsung mengikat kaki harimau itu dan mencoba menariknya, namun Tintin tidak kuat untuk menarik kaki harimau itu untuk menjauh dari arah Bibi. Harimau yang merasa kakinya terikat oleh Tintin langsung menghempaskan Tintin ke belakang dan mencoba menghampiri Tintin sambil berkata “Hey Kucing Jelek! Mau apa kau menarikku kau tidak akan kuat menarikku! Apa kau? Teman dari kucing malang itu? Ha ha ha! Jika kau memang teman kucing malang itu, aku akan memangsamu juga Kucing yang malang!!”.
Tintin yang tahu bahwa dirinya akan dimangsa harimau itu pun langsung berlari untuk melarikan diri dan mencoba untuk memancing amarah Harimau ganas itu. Harimau ganas itu segera melepas tali Tintin di tengah jalan dan berlari mengejar Tintin.
Tibalah Tintin di sebuah jurang yang di bawahnya adalah sungai yang mengalir sangat deras. Tiba-tiba harimau berkata “Ha ha ha! Mau coba-coba kabur dariku ya kucing bodoh! Jangan harap kau bisa lepas dariku! Arghhgg!” Tintin pun berkata “Seharusnya kau yang jangan harap bisa memakanku Harimau Bodoh!.” “Arghhh, tidak usah banyak bicara kamu kucing malang, aku akan segera memakanmu! Harggggh…!” lanjut harimau, dan langsung menyergap tubuh Tintin. “Jangan Harap harimau!!!” ujar Tintin sambil mengelak dari Harimau itu. Harimau itu justru tercebur ke dalam sungai di bawah jurang itu. Tintin yang berhasil mengalahkan Harimau pun tersenyum dan berkata “Dasar harimau bodoh! Kasihan kamu tidak bisa seberuntung aku! Dasar Harimau yang Malang!
Setelah Tintin berhasil mengalahkan Harimau itu, Tintin langsung pergi berbalik arah untuk menuju ke arah Bibi dan menolongnya. Di tengah perjalanan menuju Bibi, Tintin teringat pada tali yang dilepas harimau itu, Tintin langsung berlari mencari tali tersebut, hingga akhirnya ketemu.
Setelah tali itu ketemu, Tintin langsung menghampiri Bibi dan berusaha menolongnya. “Bibi, ambil tali ini dan aku akan menarikmu dari sini”. Ujar Tintin. Bibi pun langsung menjawab “Baik Tintin, Terima kasih kau telah menolongku”. “Sama-sama Bibi, kau kan temanku. Jadi wajar aku menolongmu. Oh ya dimana Puput?” Tanya Tintin pada Bibi. “Puput melarikan diri dan meninggalkan aku sendir di sini!” Jawab Bibi dengan jujur. “Apa?!! Puput meninggalkan kamu, padahal aku kira dia teman yang baik, tapi dia lebih memilih dirinya sendiri dari pada sahabatnya?” Ujar Tintin kesal sambil menatap ke arah Bibi. Bibi pun menjawab “Sudahlah Tintin, ini semua sudah terjadi. Mungkin Puput merasa takut saat itu. Wajar dia meninggalkanku”. “Ah! sudahlah Bibi, tak usah kita pikirkan Puput, lebih baik kita pulang sekarang!” ujar Tintin pada Bibi.
Sampailah Bibi dan Tintin di rumah, mereka melihat Puput yang sedang sedih. Bibi dan Tintin menghampirinya. “Hey, Puput teganya kau tinggalkan Bibi dalam keadaan yang seperti itu! apa kau tidak kasihan bila Bibi menjadi santapan harimau saat itu?” tanya Tintin pada Puput dengan keadaan marah.Puput pun berkata “maafkan aku Bibi, aku tak sengaja meninggalkanmu sendiri. Aku terkejut dan langung lari, padahal aku ingin menolongmu, tapi aku tiak bisa. Maafkan aku Bibi, Tintin!”. “Tidak apa-apa Puput, kami mengerti keadaanmu uga saat itu, maafkan aku juga saat itu, karena aku merepotkanmu.” Ujar Bibi dengan melas. “Tidak, itu salahku Bibi!” Lanjut Puput. “Sudah-sudah, ini semua tidak usah dijadikan masalah bagi kita, biarlah yang lalu berlalu. Kita ini kan sahabat, suka dan duka kita lalui bersama” Ujar Tintin kepada Kedua sahabatnya itu. Mereka bertiga lalu berpelukan dan Puput berjanji tidak akan mengulangi kesalahan seperti itu lagi. Mereka pun bahagia dan tersenyum bersama.
TAMAT.

kumohon jangan bicara soal keadilan

Sejak 10 bulan yang lalu aku tinggal di rumah ini. Kalau ditanya betah atau tidak, aku paling hanya bisa mengangguk. Tanda aku memang nyaman disini. Tapi, tidak juga. Cuma memang tidak ada pilihan lain.
Mereka sangat memperhatikanku. Tetapi kadang aku sedikit tidak suka dengan sifat-sifat mereka, tingkah laku mereka, attitude sepertinya mereka sisihkan jauh-jauh. Sangat mereka sepelekan. Apakah manusia memang seperti ini?
Disini, sekarang, Tuhan kuyakin ada sedang memandangku. Tuhan begitu baik. Menciptakanku, memoles dan mencetak tubuhku serta menghembuskan ruh ke dalam dadaku. Aku tersipu dan seakan-akan melambung ke langit-langit rumah ini saat Doris menyanjung rupa dan tubuhku. Ah, itu membuatku malu. Tapi jujur aku senang mendengarnya.
Makanan selalu tersedia khusus untukku. Ya Tuhan! aku bak raja disini. Sekali lagi, Tuhan sangat baik padaku.
Tubuh ini selalu dibelai, dimanja dan selalu dibubuhi wewangian. Laksana sang putri di kerajaan. Putih tubuhku tampak begitu bersinar, kala lampu rumah ini dihidupkan.
“Waah, tak terasa sudah besar rupanya sayangku.”
Kata yang telontar dari bibir tipis Doris berhambur ketika membelai tubuhku. Kami sangat akrab. Aku sayang kepadanya. Walaupun banyak tetangga di luar sana menggunjingnya. Anak perempuan di keluarga ini yang baru saja tamat dari Sekolah Menengah Atas. Badan sedikit gempal dengan rambut pendek sebahu. Aku takut dia akan bertambah terus berat badannya begitu dia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah.
Dia sesekali menyanyikan beberapa lagu yang membuat kupingku ingin protes mendengarnya. Aku berpura-pura tertidur di pangkuannya dengan mata yang terpejam. Berharap dia senang.
“Apa ini?! Gawat! Baju ini kan pemberian Papih dari Singapura! Aduh, bangun! Bangun, kataku!”
Melempar tubuhku begitu saja ke lantai. Sedikit aneh memang. Tapi inilah Doris. Kadang membelaiku dengan lembut kadang mencampakkanku seperti lap kotor tak berguna. Tapi, aku tak bisa bebuat apa-apa. Hanya membisu.
Dia beranjak pergi dengan muka masam. Aku menyipitkan sebelah mataku, seraya melihatnya pergi. Kalau saja aku mampu, aku ingin sekali menjambak rambutnya. Tapi… kuurungkan niatku. Karena, hanya dia yang selalu mebelaiku. Aku menghela nafas dan kembali mencoba tidur.
Sebentar, selain Doris ada juga yang selalu membelaiku, namanya Carla, keponakan Doris yang masih berusia 5 tahun. Aku sangat senang karena dia akan berkunjung ke rumah ini akhir pekan besok. Dia sangat polos seperti anak-anak pada umumnya. Cerdas dan tulus menyayangiku. Berbeda dengan keluarga ini, sepertinya Doris dan keluarganya mengangapku hanya sebagai pajangan. Membersihkan dari debu-debu, mengagumiku namun menganggapku tak punya perasaan.
Hari ini aku merasa aneh dengan badanku. Menggigil dan lunglai tak bertenaga. Aku mencoba duduk di bawah jendela, seperti biasanya. Tentu saja dengan naik di atas meja yang diletakkan di pinggir jendela itu. Jendela yang berembun tiap kali aku menatap ke luar. Jendela yang juga merupakan tempat favoritku di sudut rumah ini.
Hari ini, seisi rumah kosong. Doris dan keluarganya pergi untuk berbelanja ke swalayan. Aku tidak bisa ikut pergi dengan mereka. Tentu saja karena sesuatu hal.
Kulihat ke luar jendela. Mukaku agak sedikit panas dan jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Kaget. Ah, siapa dia? Aku belum pernah melihatnya. Sekilas dia berlalu, berjalan seperti sedang limbung. Mataku tak berkedip mengikuti langkahnya. Wajahku kudekatkan di balik jendela ini. Aku ingin mengikutinya. Kuperintahkan badanku berputar mengikutinya. Tentu saja hanya di balik jendela. Kuberjalan dan lari ke jendela berikutnya di ruang samping. Kulanjutkan mengejarnya ke jendela belakang, seolah ingin mengejarnya, namun dia sudah berlalu. Kalau saja bisa mendekatinya, Tapi bagaimana mungkin. Mustahil. Rumah ini istana sekaligus penjara bagiku.
Tuhan, entah mengapa aku ingin melihatnya kembali. Besok dan besok..
“Papih! Mamih! Ada apa dengan Bertis?! Badannya lemas dan matanya terus terpejam?! Dia akan matikah?! Aduh, aku takut! Tolong cepat, pih! Kita bawa Bertis ke dokter!”
Hentikan Doris. Aku tidak akan mati seperti katamu. Aku hanya lelah saja. Lelah mendengar teriakanmu. Terlebih hatiku seperti kau ombang-ambing. Aku hanya masih memikirkannya. Mengingat dia yang berlalu kemarin siang.
Aku sangat sangat tidak mengerti dengan keluarga ini, terlebih Doris. Pernah suatu waktu ibunya mendapati dapurnya kotor, sebuah piring pecah dan peralatan dapur berantakan. Bisa tebak apa yang dia katakan pada ibunya? Ya, dia bilang akulah yang telah melakukannya. Ingin rasanya kucekik saja lehernya.
“Sudahlah, Doris. Dia tidak akan apa-apa. Kau lihat dia hanya butuh istirahat. Kau ini jangan membuat kacau rumahlah. Sebentar lagi Paman dan Bibi serta ponakanmu akan kemari. Jangan membuat papihmu ini pusing. Bantu kami beres-beres. Jangan malah berteriak-teriak tak karuan saja kau.”
“Apakah Papih tidak kasihan pada Bertis, Pih?!”
“Tutup mulut kau dan biarkan dia tidur!”
“Ah, benar rupanya, Papih tidak sayang.. kau lihat itu, Bertis, tidak ada yang sayang kepadamu selain aku!”
Terserah apa katamu.
Puji Tuhan hari yang kutunggu-tunggu datang. Carla datang ke rumah ini. Aku sangat senang melihat tawanya. Sangat tidak dibuat-buat.
“Bertiiis! Ya Ampun aku sangat rindu!”
Dia menciumiku, membelaiku, meninabobokanku dan yang paling kusuka dia mengajakku berkejar-kejaran di halaman depan. Thanks God, aku bisa ke luar rumah. Menghirup udara yang ternyata sewangi ini. Udara yang begitu lama aku rindu wanginya. Cahaya matahari yang juga ternyata seindah ini. Terima kasih, Carla. Keluarga ini selalu mengurungku. Mengurungku…
Carla tertidur. Tertidur di rumput di halaman depan. Ibunya langsung menggendongnya. Aku pun mengikutinya. Wanita cantik itu menidurkannya di kasur depan ruang keluarga. Carla terlihat sangat kelelahan. Aku kasihan kepadanya. Kami berkejar-kejaran terlalu lama. Aku mencoba tidur di sampingnya. Tapi… hah? Pintu depan masih terbuka! Ini kesempatan!
Aku menyelinap ke luar. Dan beruntung tidak ada yang tahu. Terima kasih sekali lagi Carla…
Aku terengah-engah. Berlari. Cukup jauh juga rupanya. Aku berhenti di sebuah gubuk kecil dekat sebuah pabrik gula yang tidak terpakai. Langit sudah mulai gelap. Ya, aku rindu melihat langit secara langsung. Selama ini aku hanya lewat jendela melihatnya.
Tampak gelap, gelap dan semakin gelap.
Saat beberapa lama kucoba buka mata.
Dan…
Ah, aku tertidur rupanya. Aku menggeliat, mencoba merentangkan tubuhku yang sangat sangat lelah. Aku ingat aku semalam kabur dari rumah Doris. Sedikit lelah, takut dan gemetar. Ini pertama kali aku kabur. Wajar kalau aku shock dan bingung, pikirku. Tapi ini sungguh amazing! Seperti berhasil melepas semua ikatan yang selama ini menjerat tubuh dan membelenggu hatiku. Tak pernah aku pikirkan sebelumnya.
Kakiku seperti menyentuh sesuatu. Kuhentakkan tubuhku dan langsung berdiri. Alangkah terkejut dan sekaligus terpana. Di hadapanku sedang tertidur sesosok yang aku rindukan beberapa hari ini. Perlahan-lahan berputar dan kucoba amati dia. Wangi tubuhnya memang tak sewangi diriku. Badannya kumal seperti tak terawat. Kakinya seperti telah berjalan di atas tanah berlumpur seharian. Tapi, sepertinya aku suka…
“Oh my God, Bertis! Kemana saja kau?! Angin apa yang membuat kau keluar dari rumah ini?!”
“Sudahlah, kau mandikan saja dia! Hmm.. baunya sangat menjijikkan!”
“Baiklah, Bu. Aku harap dia tidak bertemu apalagi bergaul dengan kucing kampung! Aku sudah susah payah membesarkannya. Membayar mahal untuk memilikinya. Aku takut kalau dia akan mempermalukanku di hadapan teman-temanku dengan melahirkan anak dari hasil hubungannya dengan kucing kampung! Uh, menjijikkan.”
Mataku menatap kosong. Dalam hati aku menyesal, mengapa aku kembali ke penjara ini? Berhari-hari hingga berbulan-bulan aku seperti kehilangan gairah. Memikirkan kebodohanku. Hingga…
“Pih, Bertis aneh! Dia sudah 3 hari ini tidak mau makan!”
“Pantas saja dia tidak mau makan, dia sudah gemuk begitu. Lihatlah perutnya!”
Doris selangkah demi selangkah hendak menghampiriku. Mataku menatap langkahnya tajam. Apakah dia akan menyikap bulu lebatku dan memegang perutku? Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak bisa membayangkan dia akan menghabisi anakku ketika dia tahu kalau ini adalah hasil hubunganku dengan kucing kampung itu. Kucing kampung si merah tembaga itu…
Kukenal Doris adalah gadis yang bisa melakukan apa saja sesuai kehendaknya.
Tanpa pikir panjang sebelum dia sampai dan memegang perutku, aku berbalik ke arah pintu dan berlari. Berlari sekencang-kencangnya. Tak kuhiraukan teriakan Doris. Ku lari semakin kencang. Kencang dan kencang. Sampai aku lupa aku belum makan selama 3 hari. Lupa sampai tidak menghiraukan duri-duri yang menancap di kakiku selama aku lari. Hingga sampai di sebuah gubuk tua di sebelah pabrik gula yang tidak terpakai ini lagi.
Aku sudah tidak tahan. Sakit sekali. Sakit di badanku. Sakit di kakiku. Sakit di perutku. Ku meringkuk dengan menahan sakit malam ini sendirian. Sayup-sayup aku mendengar seperti ada yang datang. Ini pasti malaikat, pikirku. Aku keberatan malaikat akan mencabut nyawaku sekarang. Setidaknya tunggu beberapa saat lagi sampai aku melahirkan anakku. Setelah itu, aku pasti tidak keberatan.
Mataku tidak bisa kubuka. Aku mencium bau anyir darah sekarang. Dekat sekali. Menyengat sekali. Apakah darahku? Perasaan aku belum melahirkan sekarang. Lalu darah siapa?
Sesuatu jatuh tepat di sampingku. Kucoba membuka mata, walau sedikit.
Hah? Ternyata dia si kucing kampung merah tembaga itu. Kenapa dia? Gemetar tubuhku, kutelan ludah dengan susah payah. Kucoba meraihnya. Kujulurkan lidahku. Kucoba menjilat darah di tubuhnya. Tapi tidak bisa, ini terlalu banyak. Terlalu banyak darah di tubuhnya. Apakah ini perbuatan manusia? Sungguh, ini tidak adil baginya. Dia harus bertaruh nyawa hanya untuk sedikit merasakan makanan masuk ke tenggorokannya.
Tubuhnya kurasakan mulai dingin dan kaku. Manusia memang kejam!
Ku merasa sedikit demi sedikit tubuhku mulai ringan. Ringan dan melayang. Tinggi dan semakin tinggi. Kulihat ke bawah ada dua sosok putih dan merah tembaga diam tak bergerak. Dua sosok yang seolah sedang berpelukan. Ah, bukan dua, tapi tiga! Tiga sosok! Tapi sosok yang ketiga ini berbeda. Sosok berwarna putih kemerah-merahan ini memang berbeda. Dan mulai bergerak!